Kamis, 01 April 2010

Tiga Kerajaan Di Korea (Lampau: termasuk sejarah kekuasaan Jumong dan Queen Seondeok)

Aku lagi tergila2 dengan segala hal ttg Negara Korea nih.. jadi sekarang mau cerita dulu ttg masa kejayaan kerajaan2 di korea masa lampau.

Tiga Kerajaan Korea ialah kerajaan Goguryeo, Baekje dan Silla, yang menduduki semenanjung Korea dan Manchuria, antara abad ke-1 SM dan abad ke 7. Beberapa kerajaan lebih kecil dan negeri suku ada sebelum dan semasa periode Tiga Kerajaan, termasuk Gaya, Dongye, Okjeo, Buyeo, Usan, Tamna, dan lain-lain.
GOGURYEO adalah sebuah kerajaan kuno yang menduduki wilayah Manchuria dan sebelah utara Semenanjung Korea. Goguryeo termasuk ke dalam Tiga Kerajaan Korea bersama Kerajaan Baekje dan Silla dan merupakan kerajaan yang terbesar. Goguryeo berdiri tahun 37 SM dan berakhir pada tahun 668 Masehi karena ditaklukkan oleh Kerajaan Silla setelah Silla berhasil menaklukkan Baekje, dan dengan itu memulai masa Silla Bersatu dan dengan itu mengakhiri "Tiga Kerajaan."

Berdasarkan Samguk Sagi, seorang pangeran dari kerajaan Buyeo Timur bernama Jumong mengungsi setelah terjadinya perebutan kekuasaan dengan pangeran lain di kerajaan itu, dan ia mendirikan sebuah kerajaan bernama Goguryeo pada tahun 37 SM di sebuah daerah bernama Jolbon Buyeo. Diperkirakan sekarang berlokasi di tengah lembah Sungai Yalu dan Tung-chia di perbatasan Korea Utara dan Manchuria
Pada pendiriannya, kemungkinan warga Goguryeo adalah kombinasi dari orang Buyeo dan Yemaek. Penyebutan kata Jumong paling awal dicatat dalam tulisan di Prasasti Raja Gwanggaeto yang Agung yang didirikan pada abad ke-4 Masehi.
Prasasti itu menjelaskan bahwa Jumong adalah pemimpin pertama dan nenek moyang orang Goguryeo, dan ia adalah putra dari raja Buyeo dan anak perempuan dewi sungai Habaek. Samguk Sagi dan Samguk Yusa menyebutkan detail dan nama ibu dari Jumong adalah Yuhwa. Ayah kandung Jumong adalah Hae Mosu yang disebut dengan julukan laki-laki perkasa atau pangeran surga. Samguk Sagi menulis bahwa Hae Mosu adalah seorang dewa langit. Lalu Raja Buyeo memberikan tempat perlindungan bagi Yuhwa dan mengangkat Jumong menjadi putranya, kemudian menjadi pangeran. Konon, Jumong sangat berbakat, terutama dalam memanah dan berkuda sehingga membuat putra mahkota cemburu. Putra mahkota berencana membunuh Jumong dan saat mengetahui rencana itu Jumong melarikan diri dari istana.

Goguryeo terkenal suka menyerbu tetangga mereka untuk memperluas wilayah kekuasaannya sehingga seringkali ditakuti.
Pada masa pemerintahan Raja Taejo tahun 53 M, 5 kelompok suku digabungkan kedalam 5 wilayah yang dikuasai Goguryeo. Ia menundukkan suku Okjeo, suku Dongye, dan berbagai suku di Manchuria dan Korea sebelah utara. Goguryeo tidak segan untuk menyerang distrik Lelang, Xuantu dan Liaodong yang merupakan wilayah Dinasti Han. Kekuatan Goguryeo yang semakin kuat menyebabkan mereka terus melakukan ekspansi ke wilayah barat laut Manchuria. Namun, karena tekanan dari Liaodong semakin besar Goguryeo akhirnya memindahkan ibukota dari lembah Sungai Hun ke lembah Sungai Yalu dekat Gunung Wandu.
Tahun 551 M Baekje dan Silla bergabung menyerbu Goguryeo dan menduduki lembah Sungai Han yang subur. Silla kemudian mengkhianati perjanjian dengan Baekje dan merebut lembah tersebut pada tahun 553. Pada tahun selanjutnya Raja Seong dari Baekje terbunuh setelah berusaha menyerang batas barat Silla. Hilangnya wilayah yang subur ini menyebabkan Goguryeo jadi semakin lemah.

BAEKJE (16 SM-660 M) adalah salah satu dari Tiga Kerajaan Korea, menguasai wilayah sebelah barat daya Semenanjung Korea. Baekje mengaku sebagai penerus dari kerajaan Buyo dari Manchuria.
Kerajaan Baekje didirikan oleh Raja Onjo, putra ke-3 dari Jumong, raja pendiri Goguryeo. Samguk sagi memberikan penjelasan detail mengenai pendirian Baekje. Jumong meninggalkan putranya Yuri di Buyo ketika ia meninggalkan kerajaan tersebut untuk mendirikan Goguryeo . Jumong bergelar Dongmyeongseong setelah diangkat jadi raja di Goguryeo. Ia mempunyai 2 putra lagi dari istri ke-2 nya di Goguryeo , yaitu Onjo dan Biryu. Ketika Yuri datang ke Goguryeo , Jumong langsung menggelarinya sebagai putra mahkota. Mengetahui bahwa Yuri akan dijadikan raja selanjutnya, Onjo dan Biryu memutuskan untuk hijrah ke selatan bersama 10 orang budak.
Onjo menetap di Wiryeseong (sekarang Hanam) dan mendirikan kerajaan yang disebut Sipje ("Sepuluh Budak"), sementara Biryu menetap di Michuhol (sekarang Incheon). Sipje hidup dengan makmur, sedangkan Biryu harus bertahan susah payah karena Michuhol berair asin dan tanahnya berawa-rawa. Biryu lalu pergi menuju Wiryeseong untuk meminta Onjo menyerahkan tampuk kepemimpinan padanya, namun Onjo menolak dan membuat Biryu mendeklarasikan perang. Biryu kalah dalam perang tersebut dan bunuh diri karena malu. Para pengikut Biryu pindah ke Wiryeseong dan diterima senang hati oleh Onjo. Onjo lalu mengganti nama kerajaanya dengan :"Baekje" atau "Seratus Budak".
Baekje beribukotakan di Wiryeseong, yang saat ini dekat dengan kota Seoul. Puncak keemasan Baekje terjadi pada abad ke-4 Masehi ketika kekuasaannya meliputi wilayah semenanjung Korea sebelah barat daya sejauh kota Pyongyang. Baekje runtuh tahun 660 setelah dikalahkan oleh gabungan Silla dan Dinasti Tang, lalu setelah itu menjadi wilayah kekuasaan Silla Bersatu.

SILLA (tahun 57 Sebelum Masehi - 935 Masehi), seringkali diucapkan Shilla, adalah salah satu dari Tiga Kerajaan Korea. Silla bermula dari kerajaan kecil di Konfederasi Samhan. pada tahun 660 Masehi Silla bersekutu dengan Dinasti Tang berhasil menaklukkan kerajaan Baekje serta Goguryeo pada tahun 668.
Silla diperintah oleh 3 keluarga (klan) kuat selama berdirinya, yaitu Bak (Park), Seok, dan Kim. Klan Bak sebagai pendiri berkuasa lebih dari 3 generasi sebelum menghadapi pemberontakan oleh klan Seok. Dalam masa-masa pemerintahan pertama raja keluarga Seok, Raja Talhae, klan Kim berperan sebagai klan aristokrat (bangsawan). Ketiga klan ini saling berebut kekuasaan sepanjang sejarah Silla.

Dalam hal pertahanan negara dibentuklah barisan militer Hwarang, para pemuda yang memiliki pemahaman Buddhisme yang kuat. Mereka juga memainkan perang penting dalam penyatuan semenanjung. Masa-masa akhir periode awal Silla adalah saat Budhisme mencapai puncak. Sejumlah besar kuil didirikan dengan dana dan sponsor bangsawan. Yang paling terkenal adalah Bulguksa, Seokkuram, dan Hwangyongsa (Kuil Kaisar Naga) yang dibangun dengan 9 tingkat pagoda kayu, melambangkan 9 buah negeri yang bersatu dalam Silla.
Dengan bersatunya Tiga Kerajaan dalam Silla Bersatu, agama Buddha kurang menjadi begitu penting saat negara mulai mengadopsi metode birokrasi Tiongkok untuk mengelola negara yang semakin besar dan juga untuk mengekang kekuasaan keluarga bangsawan. Namun Buddhisme tetap mendapat tempat khusus rakyat Silla. Banyak dari biksu-biksu pergi ke Tiongkok belajar dan mencari sutra. Hasil seni dan kerajinan Silla sangat dipengaruhi unsur-unsur Buddhisme yang kental

0 komentar: