Tadi pagi, ketika melintas keluar komplek perumahan tempat saya tinggal, saya berpapasan dengan sepasang suami istri yang sedang jaan-jalan pagi. Saya yakini saja mereka pasangan suami istri karena mereka tampak mesra sekali.
Pasangan ini terlihat ngobrol asyik sekali, sambil sesekali salah satunya tertawa terkekeh-kekeh. Sang istri duduk di kursi roda yang didorong suaminya. Usia mereka berdua sekitar 70an tahun. Dan sang suami kakinya sudah gemetar setiap kali melangkah.
Saya terpana.
Mereka sudah berjalan sepanjang itu. Lebih dari separuh hidup dijalani berdua, dan mereka masih bisa ngobrol, jalan pagi dan tertawa bersama. Mereka berdua masih saling dukung walau tubuh sudah tak lagi seberapa kuat.
Apa sih arti kuat?
Sang suami yang sudah kakek-kakek itu menikmati langkahnya yang gemetar, untuk mendorong kursi roda istrinya dengan rasa bahagia. Wajah mereka cerah sekali.
Ah, berapa lama ya usia pernikahan mereka? Dua puluh? Tiga puluh? Atau lebih? Seberapa banyak pertengkaran yang sudah mereka lewati? Seberapa perih proses kompromi yang mereka tekuni? Selama itu? Sepanjang itu? Lebih dari separuh umur mereka.
Ditengah jalannya yang tertatih, dia rela hati menemani pasangannya mandi matahari pagi. Saat itu saya jadi berpikir, akankah saya mau mengecup pelipis pasangan dan berkata, “kamu capek, ya” ketika tubuh saya begitu lelah sepulang kerja. Akankah saya mau terjaga ditengah kantuk nan luar biasa ketika pasangan butuh teman cerita pada dini hari buta. Akankah saya mau sekedar membuatkan kopi ketika melihatnya tengah berat didera masalah.
Sekarang rasanya saya mau. Sampai usia habis nanti.
Minggu, 12 Juni 2011
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)








0 komentar:
Poskan Komentar